Trending

Dampak El Nino pada Produksi Sawit, Ini Kata Analis!

AdminNM-Newsmaker.id

Jumat, 3 Juli 2026 - 14.34

Dampak El Nino pada Produksi Sawit, Ini Kata Analis!

Sumber: Newsmaker.id

Newsmaker.id - Fenomena El Nino yang mulai terbentuk diperkirakan menjadi sentimen positif bagi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam jangka pendek. Namun, cuaca yang lebih kering berisiko menekan volume produksi tandan buah segar pada 2027, sehingga keuntungan dari kenaikan harga dapat berkurang.

Sejumlah analis menilai dampak El Nino terhadap industri sawit tidak terjadi secara langsung, melainkan berlangsung secara bertahap. Pada fase awal, pasar biasanya lebih dulu merespons potensi pengetatan pasokan dengan mendorong harga CPO. Sementara itu, dampak terhadap produksi baru terlihat setelah kekeringan berlangsung selama beberapa bulan.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA pada 11 Juni 2026 menyatakan kondisi El Nino telah terbentuk. Peluang fenomena ini berkembang menjadi El Nino sangat kuat pada periode November 2026 hingga Januari 2027 diperkirakan mencapai sekitar 63%.

Analis Riset Ekuitas BIMB Securities, Saffa Amanina Mohd Anwar, menilai harga CPO berpotensi mendapat dukungan tambahan pada 2027 apabila El Nino berkembang sangat kuat dan disertai curah hujan di bawah normal dalam waktu lama di wilayah produsen utama. Sepanjang 2026, harga CPO telah naik sekitar 12% ke kisaran RM4.491 per ton. Rata-rata harga CPO diperkirakan berada di sekitar RM4.400 per ton tahun ini dan meningkat menjadi sekitar RM4.500 per ton pada 2027.

Meski demikian, penurunan produksi tidak akan langsung terasa. Siklus biologis kelapa sawit membuat dampak kekeringan terhadap pembentukan buah baru baru terlihat dalam enam hingga 12 bulan. Jika kondisi kering berlanjut pada paruh kedua 2026, gangguan terhadap produksi tandan buah segar mulai terlihat menjelang akhir tahun, dengan dampak yang lebih besar berpotensi muncul sepanjang 2027.

Kondisi tersebut membuat kinerja perusahaan perkebunan sawit pada 2026 masih berpeluang ditopang oleh kenaikan harga jual CPO. Produksi juga masih terbantu oleh musim panen yang lebih tinggi pada kuartal III. Namun, memasuki 2027, kenaikan harga CPO berpotensi mulai diimbangi oleh penurunan volume produksi, terutama bagi perusahaan yang memiliki perkebunan di wilayah rawan kekeringan, menghadapi keterbatasan tenaga kerja, atau memiliki efektivitas pemupukan yang lebih rendah.

Dari sisi produksi, Kepala Riset CIMB Securities Ivy Ng memperkirakan produksi CPO Malaysia pada 2026 turun sekitar 2% hingga 3% menjadi 19,7 juta–19,9 juta ton dari realisasi 20,28 juta ton pada 2025. Sementara itu, produksi CPO Indonesia diproyeksikan mencapai 50,5 juta hingga 51 juta ton, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi 51,7 juta ton pada 2025. Emiten sawit dengan areal tanam tersebar di berbagai wilayah dinilai lebih mampu meredam dampak El Nino, sedangkan perusahaan yang bergantung pada wilayah dengan tingkat kekeringan tinggi berpotensi menghadapi tekanan produksi yang lebih besar. 

Bagikan: