Bencana Alam Uji Stabilitas Rupiah, Simak Penjelasannya!
AdminNM-Newsmaker.id
Senin, 7 September 2026 - 21.39

Sumber: Newsmaker.id
Stabilitas rupiah kembali diuji oleh meningkatnya risiko ekonomi domestik. Sejumlah bencana alam yang mengganggu aktivitas transportasi, masyarakat, dan rantai pasok dinilai dapat menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp17.640 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 7 September 2026. Posisi tersebut menguat tipis 0,01% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp17.653 per dolar AS. Posisi ini melemah Rp17 atau sekitar 0,10% dibandingkan JISDOR Jumat, 4 September 2026, yang berada di level Rp17.636 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pekan ini menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Menurutnya, tantangan Bank Indonesia bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan stimulus moneter tidak memicu volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing.
Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam hingga akhir pekan. Sebaran abu vulkanik disebut menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di setidaknya delapan bandara, serta membuat sekitar 170.000 penumpang tertahan.
Selain erupsi, risiko lain datang dari pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito. Kondisi tersebut berpotensi menghambat transportasi batu bara, membatasi aktivitas logistik, dan meningkatkan risiko gangguan rantai pasok. Untuk perdagangan Selasa, 8 September 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.640 hingga Rp17.680 per dolar AS.
Analisa Newsmaker melihat tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dari risiko domestik yang mulai meningkat. Jika gangguan transportasi, logistik, dan aktivitas masyarakat berlangsung lebih lama, pasar dapat menilai risiko ekonomi Indonesia bertambah besar. Namun, tekanan rupiah masih berpeluang tertahan apabila data cadangan devisa, sentimen konsumen, dan penjualan ritel menunjukkan kondisi domestik tetap kuat.