Begini Pergerakan Rupiah dan IHSG Pascakeputusan MSCI
AdminNM-Newsmaker.id
Jumat, 19 Juni 2026 - 02.21

Sumber: Newsmaker.id
Newsmaker.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif, tetapi berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini muncul setelah pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, rupiah ditutup melemah 0,18% atau 32 poin ke level Rp17.794 per dolar AS, seiring penguatan indeks dolar AS atau DXY sebesar 0,26% ke posisi 100,34.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati keputusan Bank Indonesia yang kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18–19 Juni 2026. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Kenaikan suku bunga ini menjadi langkah lanjutan BI untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah, yakni 2,5% plus minus 1%.
Menurut analisa Newsmaker, kenaikan BI Rate memang dapat menjadi penahan pelemahan rupiah, tetapi belum cukup kuat untuk langsung membalikkan arah pasar apabila tekanan eksternal masih besar. Rupiah berpeluang bergerak fluktuatif karena pelaku pasar masih menimbang penguatan dolar AS, arus keluar dana asing, dan arah suku bunga global. Selama rupiah masih bergerak di atas area Rp17.790 per dolar AS, tekanan jangka pendek masih perlu diwaspadai. Namun, jika sentimen terhadap aset domestik membaik, peluang rupiah kembali menguji area Rp17.725 hingga Rp17.760 per dolar AS tetap terbuka.
Dari sisi global, deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sentimen yang dapat membantu meredakan tekanan terhadap rupiah. Penurunan harga minyak dari sekitar US$100 per barel ke kisaran US$80 per barel berpotensi positif bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak. Jika harga energi lebih terkendali, beban impor dapat menurun dan tekanan terhadap neraca perdagangan berpotensi berkurang. Namun, dampak positif ini masih perlu waktu untuk tercermin lebih kuat pada pergerakan rupiah.
Sementara itu, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market menjadi sentimen yang cukup melegakan bagi pasar saham domestik. Menurut analisa Newsmaker, keputusan ini dapat menahan tekanan lebih dalam pada Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, karena risiko penurunan status ke frontier market untuk sementara mereda. Dengan status emerging market yang tetap dipertahankan, peluang masuknya dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar masih terbuka, terutama jika investor melihat valuasi pasar domestik sudah menarik.
Meski demikian, IHSG belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Catatan MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan saham, indikasi perdagangan terkoordinasi, serta penurunan penilaian pada aspek Information Flow dari positif menjadi negatif tetap menjadi perhatian investor asing. Dalam jangka pendek, IHSG berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan rebound terbatas apabila saham-saham big caps kembali diburu. Namun, jika rupiah masih melemah dan investor asing tetap wait and see, IHSG berisiko tertahan di zona konsolidasi sebelum mendapatkan katalis baru yang lebih kuat.