Trending

Apa yang Terjadi Antara Singapura dan Indonesia?

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15.00

Apa yang Terjadi Antara Singapura dan Indonesia?

Sumber: Newsmaker.id

Newsmaker.id — Hubungan Indonesia dan Singapura kembali menjadi perhatian setelah muncul sejumlah isu yang terjadi hampir bersamaan, mulai dari kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga pengurangan sebagian pasokan gas Indonesia ke Singapura. Namun, kondisi tersebut tidak berarti kedua negara sedang mengalami konflik terbuka. Indonesia dan Singapura tetap memiliki hubungan bilateral yang luas dan strategis, sementara berbagai perbedaan yang muncul saat ini sedang dibahas melalui jalur diplomasi.

Salah satu persoalan yang kembali mencuat adalah kabut asap lintas batas. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dapat menghasilkan asap yang terbawa angin hingga ke wilayah Singapura. Bagi Singapura, persoalan ini berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Karena masalah tersebut telah berulang selama bertahun-tahun, kedua negara sepakat membentuk Joint Task Force untuk memperkuat pertukaran informasi, koordinasi antarlembaga, serta penanganan perusahaan yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran. Kedua negara juga sepakat menjaga jalur komunikasi melalui hotline antarkementerian luar negeri.

Isu kedua berkaitan dengan pasokan gas alam. Indonesia pada Oktober 2026 mengurangi sebagian ekspor gas pipa ke Singapura sekitar 31 MMBTUD atau sekitar 8% dari total ekspor gas pipa dari Natuna dan Sumatra. Pemerintah Indonesia menjelaskan bahwa pengurangan tersebut dilakukan untuk mengamankan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri, termasuk PLN dan industri, serta menegaskan bahwa volume yang dikurangi masih berada dalam batas minimum kontrak sehingga tidak dianggap sebagai pelanggaran perjanjian.

Dari sisi Singapura, isu pasokan gas menjadi perhatian karena gas merupakan bagian penting dari sistem energi negara tersebut. Singapura sendiri menekankan pentingnya penghormatan terhadap kontrak komersial dan menyatakan bahwa kedua negara memiliki kepentingan untuk menjaga kredibilitas serta kepastian hubungan ekonomi. Namun, dalam pembicaraan terbaru, kedua pihak tetap membuka ruang komunikasi dan mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik. Ini menunjukkan bahwa persoalan gas tidak secara otomatis berarti hubungan Indonesia-Singapura memburuk secara keseluruhan.

Jika dilihat lebih luas, hubungan Indonesia dan Singapura sebenarnya jauh lebih besar daripada dua persoalan tersebut. Kedua negara memiliki kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi, digital, pertahanan, lingkungan, hingga pengembangan infrastruktur. Pada pertemuan tingkat pemimpin Juli 2026, kedua negara bahkan menyepakati berbagai kerja sama baru, termasuk perdagangan listrik lintas batas, kredit karbon, digital, lingkungan, dan ketahanan rantai pasok. Karena itu, kabut asap dan isu gas lebih tepat dilihat sebagai tantangan yang sedang dinegosiasikan dalam hubungan bilateral yang tetap luas dan saling bergantung.

Pada akhirnya, yang terjadi antara Indonesia dan Singapura saat ini adalah dua negara tetangga yang memiliki kepentingan ekonomi sangat erat, tetapi sedang menghadapi beberapa perbedaan kepentingan di sektor lingkungan dan energi. Indonesia berkepentingan menjaga kebutuhan energi domestik dan menangani karhutla, sementara Singapura berkepentingan memastikan pasokan energi tetap aman dan dampak kabut asap terhadap masyarakatnya dapat ditekan. Karena itu, pembentukan Joint Task Force, komunikasi tingkat tinggi, serta pembahasan mengenai kontrak gas menjadi penting agar persoalan yang ada tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap hubungan kedua negara. Bahkan pada 2027, Indonesia dan Singapura akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik, sehingga stabilitas hubungan bilateral tetap menjadi kepentingan kedua negara. (srh) 

Bagikan: