Rupiah Anjlok, Pemerintah Siapkan Stabilization Fund
AdminNM-Newsmaker.id
Selasa, 12 Mei 2026 - 13.56

Sumber: Newsmaker.id
Kementerian Keuangan bersiap mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) di tengah tekanan berat terhadap rupiah. Langkah ini muncul setelah nilai tukar rupiah terus melemah dan sempat menyentuh level Rp17.508 per dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Selasa (12/05) 2026.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan mulai membantu pasar melalui intervensi di pasar obligasi. Menurutnya, stabilisasi nilai tukar tetap menjadi kewenangan Bank Indonesia (BI), tetapi pemerintah dapat ikut menjaga sentimen pasar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
Secara sederhana, Bond Stabilization Fund adalah dana khusus yang dibentuk pemerintah, dan dalam beberapa kondisi dapat melibatkan bank sentral, untuk menstabilkan pasar obligasi negara atau SBN saat terjadi gejolak. Dana ini dapat digunakan untuk membeli kembali surat utang yang beredar, sehingga mampu menahan lonjakan yield atau biaya utang, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Purbaya menjelaskan, pemerintah akan menggunakan ruang likuiditas yang tersedia, termasuk Sisa Anggaran Lebih atau SAL, untuk membantu menahan lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara. Dengan masuk ke pasar obligasi, pemerintah berharap yield SBN tidak naik terlalu tinggi dan tidak menimbulkan tekanan tambahan bagi investor.
Kenaikan yield SBN menjadi perhatian karena dapat memicu capital loss bagi investor asing yang memegang obligasi domestik. Jika kerugian tersebut semakin besar, risiko arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia juga meningkat. Kondisi inilah yang ingin dicegah pemerintah agar tekanan terhadap rupiah bisa lebih terkendali.
Dengan menjaga pasar obligasi tetap stabil, pemerintah berharap dana asing tidak keluar dari Indonesia, bahkan berpotensi kembali masuk apabila kondisi yield dan sentimen pasar membaik. Purbaya menegaskan langkah ini akan dilakukan secara bertahap untuk meredam volatilitas, menjaga kepercayaan investor, dan membantu membuka ruang bagi penguatan rupiah ke depan.