Trending

Mata Uang Asia Menguat Sepanjang Pekan, Ini Penyebabnya

AdminNM-Newsmaker.id

Jumat, 12 Juni 2026 - 16.16

Mata Uang Asia Menguat Sepanjang Pekan, Ini Penyebabnya

Source: Newsmaker.id

Newsmaker.id - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Penguatan tersebut terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS dan membaiknya sentimen pasar global, terutama setelah investor mulai melihat peluang kebijakan suku bunga The Fed tidak seketat perkiraan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar sebesar 2,4%. Setelah itu, peso Filipina menguat 0,6%, rupiah terapresiasi 0,5%, dan dolar Singapura naik 0,4%. Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau DXY melemah tipis dari level 100 pada awal pekan menjadi 99,83 pada akhir pekan.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai penguatan mayoritas mata uang Asia dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan faktor domestik masing-masing negara. Dari sisi global, dolar AS cenderung melemah karena pasar mulai menilai peluang kenaikan suku bunga The Fed tidak akan seagresif ekspektasi sebelumnya.

Selain faktor suku bunga, harapan terhadap tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran juga ikut memperbaiki sentimen pasar. Kondisi tersebut membuat investor kembali berani masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang di kawasan Asia. Ketika tekanan geopolitik mulai mereda, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman cenderung berkurang.

Dari sisi domestik, sejumlah mata uang Asia juga mendapat dukungan dari kondisi fundamental masing-masing negara. Won Korea Selatan menguat seiring meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter setelah inflasi menunjukkan tren kenaikan. Peso Filipina mendapat dorongan dari inflasi yang mulai melandai, sehingga memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi negara tersebut.

Sementara itu, rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Langkah tersebut dinilai meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor. Ke depan, arah mata uang Asia pada semester II-2026 masih akan sangat bergantung pada kebijakan The Fed dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Jika inflasi AS terus melandai dan peluang kenaikan suku bunga tambahan semakin kecil, mata uang Asia berpeluang melanjutkan penguatan secara bertahap.

Bagikan: