IHSG Akhir Pekan Ditutup Merah, Simak Emiten yang Ikut Ambles!
AdminNM-Newsmaker.id
Jumat, 26 Juni 2026 - 16.30

Source: Newsmaker.id
Newsmaker.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Mengutip data RTI Business pukul 16.01 WIB, IHSG turun 1,72% atau 102,90 poin ke level 5.896,04. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 5.830 hingga 6.045.
Tekanan pasar terlihat cukup dalam dengan 562 saham melemah, 123 saham menguat, dan 129 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 20,35 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,38 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,53 juta kali, sementara kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di level Rp10.324 triliun.
Pelemahan IHSG turut dipengaruhi oleh tekanan pada sejumlah saham terafiliasi Prajogo Pangestu. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turun 5,03% atau 95 poin ke level Rp1.795 per saham. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) ambles 8,22% atau 300 poin ke posisi Rp3.350 per saham, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) anjlok 9,60% atau 60 poin ke level Rp565 per saham.
Meski indeks bergerak melemah, beberapa saham berkapitalisasi besar masih mampu menguat. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 2,49% ke posisi Rp6.175 per saham, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 0,70% ke level Rp2.870 per saham. Di sisi lain, saham FUJI menjadi salah satu penekan terdalam setelah turun 14,88% ke level Rp206 per saham, disusul CLPI yang melemah 14,83% ke posisi Rp1.465 per saham.
Dari sisi sentimen, Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap meningkatnya krisis kepercayaan dari dunia internasional. Sorotan muncul setelah penerbitan UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan UU P2SK, terutama terkait pasal 50A yang mengatur perlindungan hukum bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Aturan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko pencucian uang dan pelemahan integritas sistem keuangan. Selain itu, penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 ke posisi 48 dari 70 negara turut menambah tekanan, terutama karena lemahnya efisiensi bisnis, efektivitas pemerintah, dan kualitas infrastruktur.