Trending

Kekeringan Mulai Tekan Budidaya Ikan Air Tawar Indonesia

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 10 September 2026 - 13.02

Kekeringan Mulai Tekan Budidaya Ikan Air Tawar Indonesia

Source: Newsmaker.id

Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai memberikan tekanan terhadap usaha budidaya ikan air tawar, terutama bagi pembudidaya yang mengandalkan air sungai, saluran irigasi, dan sumber air alami. Menurunnya debit air membuat sebagian kolam mengalami penyusutan, sementara suhu dan kualitas air menjadi semakin sulit dijaga selama musim kemarau.

Risiko tersebut masih cukup tinggi memasuki September. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sekitar 88,09% wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal pada September 2026. Untuk Dasarian II September, sekitar 77,32% wilayah juga diperkirakan masih mengalami hujan di bawah normal, sehingga tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi berlanjut.

Dampak kekurangan air sudah dirasakan pembudidaya di sejumlah daerah. Di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, beberapa kolam budidaya ikan mulai mengering akibat hujan yang lama tidak turun dan saluran irigasi kehilangan pasokan air. Seorang pembudidaya ikan patin dan bawal bahkan terpaksa memindahkan ikan dari kolam yang mengering ke kolam lain untuk mengurangi risiko kerugian.

Kondisi serupa menjadi perhatian pemerintah daerah di Sleman, Yogyakarta. Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan setempat memperingatkan berkurangnya debit sungai dan irigasi dapat memengaruhi budidaya nila dan lele. Pembudidaya diminta menyesuaikan kepadatan ikan di kolam karena volume air yang lebih rendah meningkatkan persaingan oksigen, stres pada ikan, serta risiko penyakit dan kematian.

Tekanan kekeringan juga berpotensi meningkatkan biaya produksi. Pembudidaya dapat membutuhkan pompa, aerator, tambahan sumber air, hingga pengaturan pakan yang lebih ketat untuk mempertahankan kualitas kolam. Sistem budidaya hemat air seperti bioflok menjadi salah satu alternatif karena penggunaan airnya lebih efisien dibanding sistem kolam konvensional. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut teknologi tersebut dapat menghemat penggunaan air karena penambahan air hanya dilakukan ketika diperlukan.

Budidaya air tawar merupakan bagian penting dari pasokan pangan nasional, dengan komoditas utama seperti lele, nila, patin, dan gurame. Pada triwulan II 2025, produksi budidaya ikan air tawar mencapai sekitar 1,99 juta ton. Karena itu, apabila kekeringan berlangsung lebih lama dan debit sumber air terus menurun, gangguan produksi di sentra-sentra budidaya dapat berisiko memperketat pasokan serta meningkatkan harga ikan di tingkat konsumen.

BMKG sebelumnya memperingatkan El Niño berpotensi bertahan hingga awal 2027, sementara sebagian besar wilayah Indonesia menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang dari biasanya. Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan produksi ikan air tawar dalam beberapa bulan ke depan.(CP)

Bagikan: