Trending

Kekeringan Mulai Tekan Pasokan Pangan Indonesia

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 10 September 2026 - 12.52

Kekeringan Mulai Tekan Pasokan Pangan Indonesia

Source: Newsmaker.id

Kekeringan yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian dan meningkatkan risiko gangguan pasokan pangan. Kondisi kemarau yang lebih panjang akibat El Niño sangat kuat membuat ketersediaan air untuk sawah berkurang, bahkan menyebabkan sebagian petani kesulitan memasuki musim tanam berikutnya. BMKG memperkirakan 88,09% wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal pada September 2026.

Dampak kekeringan mulai terlihat di sejumlah sentra produksi. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah menyediakan layanan air untuk sekitar 51.607 hektare sawah terdampak kekeringan hingga awal September untuk mencegah gagal panen. Di Merauke, Papua Selatan, sekitar 500 hektare sawah dilaporkan mengalami gagal panen karena kemarau berkepanjangan menyebabkan saluran irigasi dan embung kehilangan pasokan air.

Tekanan terhadap produksi juga mulai tercermin dalam proyeksi Badan Pusat Statistik. Produksi beras periode Juli–September 2026 diperkirakan sebesar 9,36 juta ton, turun sekitar 0,88% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Luas panen pada periode tersebut juga diproyeksikan turun 1,26% menjadi sekitar 3,15 juta hektare. BPS mengingatkan proyeksi tersebut masih dapat berubah akibat kekeringan, serangan hama, maupun pergeseran waktu panen.

Kemarau tahun ini juga mulai memengaruhi pola tanam petani. Pemerintah mengakui minimnya hujan membuat banyak petani tidak dapat menanam padi pada periode gadu atau musim paceklik. Untuk menjaga ketersediaan dan harga beras, pemerintah menambah 1 juta ton beras untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga akhir 2026.

Risiko terhadap harga pangan semakin besar apabila kemarau bertahan lebih lama. Berkurangnya produksi beras, sayuran, cabai, jagung, dan komoditas hortikultura dapat mempersempit pasokan di tingkat pasar dan meningkatkan biaya distribusi. Tekanan dari dalam negeri juga datang bersamaan dengan kenaikan harga pangan global, dengan indeks harga pangan FAO pada Agustus mencapai level tertinggi sejak akhir 2022 akibat cuaca ekstrem dan gangguan perdagangan internasional.

Meski demikian, pemerintah menegaskan stok beras nasional masih berada dalam kondisi terjaga. Bulog memiliki stok sekitar 5,25 juta ton beras, sementara bantuan pangan juga diperpanjang hingga Desember untuk lebih dari 33 juta penerima. Tantangan utama dalam beberapa bulan mendatang adalah menjaga produksi tetap berjalan di tengah kekurangan air sekaligus memastikan gangguan panen tidak berkembang menjadi tekanan pasokan dan lonjakan harga pangan yang lebih luas.(CP)

Bagikan: