IHSG Menguat, Sektor Energi dan Kesehatan Jadi Penopang
AdminNM-Newsmaker.id
Senin, 7 September 2026 - 09.54

Source: Newsmaker.id
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergerak menguat pada perdagangan Senin (7/9), rebound setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. IHSG sempat naik sekitar 0,4% ke kisaran 6.662 pada awal perdagangan, ditopang oleh penguatan saham sektor kesehatan, energi, dan infrastruktur. Data Trading Economics menunjukkan indeks kemudian bergerak di sekitar 6.653 atau menguat sekitar 0,25% pada perdagangan pagi.
Sentimen pasar turut mendapat dukungan dari sinyal pemerintah mengenai kemungkinan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan anggaran program tersebut untuk 2027 berpotensi ditekan hingga di bawah Rp200 triliun dari alokasi sebelumnya sekitar Rp240 triliun. Langkah ini dipandang pasar sebagai sinyal kehati-hatian fiskal dan upaya meningkatkan efisiensi belanja negara.
Di tengah penguatan indeks, kekhawatiran domestik masih datang dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengganggu aktivitas penerbangan. Delapan bandara di Indonesia sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik, termasuk sejumlah bandara yang melayani wilayah Jakarta. Gangguan tersebut menyebabkan pembatalan atau penundaan lebih dari 1.500 penerbangan dan berdampak terhadap sekitar 170.000 penumpang.
Pelaku pasar juga masih berhati-hati menjelang sejumlah agenda ekonomi domestik pekan ini. Investor akan mencermati data cadangan devisa Agustus, kepercayaan konsumen, serta penjualan ritel Juli untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi Indonesia. Selain itu, data inflasi konsumen dan produsen China serta kinerja perdagangan negara tersebut juga menjadi perhatian karena China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Sejumlah saham mencatat kenaikan kuat dan menjadi penopang indeks. Adaro Andalan menguat sekitar 5,1%, Bukit Asam naik 4,9%, Kalbe Farma bertambah 3,2%, sementara United Tractors menguat sekitar 2,6%. Pergerakan tersebut menunjukkan saham berbasis energi dan komoditas masih memperoleh minat di tengah harga energi global yang tetap tinggi.