Rupiah Kembali Tertekan, Dana Asing Terus Keluar!
AdminNM-Newsmaker.id
Jumat, 30 Oktober 2026 - 13.49

Source: Newsmaker.id
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan pasangan USD/IDR bergerak di sekitar Rp18.180 pada sesi Asia. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat menguat selama tiga hari perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Indonesia dipengaruhi kekhawatiran arus keluar modal asing dan memburuknya sentimen pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi tajam, dengan penurunan sekitar 1,29% menuju level 5.030 pada perdagangan pagi.
Sentimen negatif dari pasar global turut memperbesar tekanan terhadap aset Indonesia. Pelemahan bursa saham Amerika Serikat setelah koreksi tajam saham Alphabet kembali memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan. Di dalam negeri, aksi jual investor asing, ketidakpastian politik, serta meningkatnya risiko fiskal akibat harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel semakin membebani rupiah. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia menghadapi risiko peningkatan kebutuhan dolar untuk membiayai pembelian minyak dan produk bahan bakar dari luar negeri.
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas pasar keuangan. Langkah tersebut bertujuan meredam volatilitas rupiah, menjaga kepercayaan investor, serta memastikan pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Namun, keberhasilan stabilisasi tetap dipengaruhi perkembangan arus modal dan sentimen pasar global.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS secara global berpotensi membatasi kenaikan USD/IDR. Harapan terhadap upaya diplomasi Amerika Serikat dan Iran telah mengurangi sebagian permintaan dolar sebagai aset aman, sementara pelaku pasar menurunkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember menjadi sekitar 75%, dari 84,2% sehari sebelumnya. Dalam pandangan kami, rupiah masih berada dalam kondisi rentan karena tekanan domestik belum sepenuhnya mereda. Pemulihan yang lebih kuat membutuhkan stabilitas IHSG, berkurangnya arus keluar modal asing, serta meredanya kekhawatiran terhadap harga energi dan kondisi fiskal nasional.