IHSG Terjun ke 5.000, Tekanan Pasar Belum Mereda!
AdminNM-Newsmaker.id
Jumat, 30 Oktober 2026 - 10.19

Source: Newsmaker.id
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan pelemahan sekitar 95 poin atau 1,9% menuju level 5.005 pada sesi pagi. Penurunan ini memperpanjang tekanan dari perdagangan sebelumnya dan membawa indeks menuju pelemahan mingguan sekitar 8%, sekaligus menghapus penguatan pada pekan lalu. Sepanjang Oktober, IHSG tercatat telah merosot sekitar 17,5% berdasarkan pergerakan sementara, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar saham Indonesia.
Dari sisi global, tekanan datang dari pelemahan saham teknologi Amerika Serikat setelah kekhawatiran terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) kembali meningkat. Penurunan saham Alphabet dan melemahnya kontrak berjangka indeks saham AS turut membebani sentimen pasar Asia. Investor mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar perusahaan teknologi untuk pengembangan AI mampu menghasilkan pertumbuhan keuntungan yang sebanding. Kondisi tersebut mendorong sikap menghindari risiko dan memberikan tekanan tambahan pada pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah, aksi jual bersih investor asing, dan ketidakpastian mengenai prospek pasar modal Indonesia masih menjadi perhatian utama. Ketegangan politik akibat demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota turut meningkatkan kehati-hatian investor. Harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel juga menimbulkan kekhawatiran terhadap biaya impor energi dan tekanan anggaran pemerintah. Di sisi lain, investor menantikan data inflasi Oktober yang akan dirilis pekan depan untuk menilai perkembangan daya beli masyarakat dan kemungkinan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Tekanan jual terjadi di hampir seluruh sektor saham, terutama bahan baku, infrastruktur, transportasi, dan energi. Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut mengalami koreksi, seperti Barito Pacific yang turun sekitar 7%, Surya Citra Media melemah 6,9%, dan Telkom Indonesia terkoreksi 2,3%. Dari sisi teknikal, kawasan 5.000 menjadi level psikologis yang penting untuk diperhatikan. Jika indeks gagal bertahan di atas area tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pemulihan memerlukan perbaikan sentimen global, stabilitas rupiah, serta berkurangnya tekanan jual investor. Menurut kami, IHSG masih menghadapi risiko pelemahan jangka pendek sehingga kemampuan indeks mempertahankan level 5.000 akan menjadi penentu penting menjelang perdagangan awal November.