Trending

Harga Pangan Belum Stabil, Cabai Rawit Tembus Rp55.150 per Kilogram

AdminNM-Newsmaker.id

Rabu, 22 Juli 2026 - 15.40

Harga Pangan Belum Stabil, Cabai Rawit Tembus Rp55.150 per Kilogram

Source: Newsmaker.id

Newsmaker.id - Harga sejumlah komoditas pangan nasional bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia, harga cabai rawit merah berada di level Rp55.150 per kilogram, sedangkan telur ayam ras tercatat Rp29.600 per kilogram. Harga daging ayam ras segar juga meningkat menjadi Rp38.750 per kilogram.

Pada kelompok beras, kualitas bawah I naik menjadi Rp14.750 per kilogram, sedangkan beras kualitas bawah II berada di Rp14.600 per kilogram. Beras kualitas medium I dan II masing-masing diperdagangkan seharga Rp16.400 dan Rp16.200 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas super I bertahan di Rp17.650 dan kualitas super II sebesar Rp17.150 per kilogram.

Penurunan harga terlihat pada beberapa komoditas bumbu dapur. Bawang merah turun menjadi Rp42.600 per kilogram dan bawang putih menjadi Rp43.200 per kilogram. Cabai merah besar tercatat Rp47.550, cabai merah keriting Rp46.050, serta cabai rawit hijau Rp52.450 per kilogram. Harga cabai rawit merah turun sekitar 5,16%, tetapi masih berada pada level yang relatif tinggi.

Pergerakan harga pangan yang beragam menunjukkan tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang. Inflasi pangan tahunan Indonesia memang melambat dari 6,24% pada Mei menjadi 5,58% pada Juni 2026, tetapi masih berada di atas batas atas target pemerintah sebesar 3%–5%. Pemerintah terus memperkuat stabilisasi melalui program beras SPHP, bantuan pangan, dan Gerakan Pangan Murah dengan dukungan cadangan beras pemerintah yang mencapai lebih dari 5 juta ton.

Dampak terhadap Market :

Daya beli masyarakat: Kenaikan harga ayam, telur, beras, dan minyak goreng dapat menambah pengeluaran rumah tangga karena komoditas tersebut dikonsumsi secara rutin. Masyarakat berpendapatan rendah menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan harga pangan.

Inflasi Indonesia: Penurunan harga bawang dan sebagian cabai dapat membantu meredam tekanan inflasi. Namun, kenaikan harga beras, ayam, telur, serta minyak goreng tetap perlu diwaspadai karena memiliki bobot penting dalam pengeluaran masyarakat.

Kebijakan Bank Indonesia: Inflasi pangan yang kembali meningkat dapat membatasi ruang penurunan suku bunga, terutama apabila disertai pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi. Sebaliknya, harga pangan yang semakin stabil dapat membuka ruang kebijakan moneter yang lebih longgar.

Sektor konsumsi dan ritel: Kenaikan harga bahan pangan berpotensi menekan volume belanja masyarakat dan margin usaha makanan. Konsumen dapat mengurangi pembelian barang nonpokok untuk mempertahankan pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

Kesimpulan: Harga pangan nasional masih bergerak campuran. Penurunan bawang dan beberapa jenis cabai memberikan sedikit kelegaan, tetapi kenaikan ayam, telur, beras, dan minyak goreng membuat risiko inflasi pangan belum sepenuhnya mereda.(CP)

Bagikan: