Laba Bank BJB Tumbuh 37,3%, Tembus Rp1,1 Triliun
AdminNM-Newsmaker.id
Jumat, 30 Oktober 2026 - 12.28

Source: Newsmaker.id
Newsmaker.id — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau bank bjb membukukan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. Perolehan tersebut tumbuh 37,3% secara tahunan atau year on year (YoY), ditopang peningkatan pendapatan berbasis komisi, efisiensi operasional, serta pengelolaan biaya dana.
Di tengah dinamika industri perbankan, bank bjb menerapkan strategi pertumbuhan yang berkualitas dengan mengedepankan penyaluran kredit melalui penempatan dan pengelolaan risiko. Pendapatan bunga bersih tercatat tumbuh 1,8% YoY, sementara fee based income mencapai Rp1,7 triliun. Dari sisi efisiensi, beban operasional berhasil ditekan sekitar 2% YoY sehingga laba operasional sebelum pencadangan atau laba operasi pra-penyediaan (PPOP) tumbuh lebih dari 5,5%.
Dari sisi intermediasi, total kredit dan pembiayaan konsolidasi bank bjb mencapai Rp142,3 triliun hingga September 2026. Secara bank only, penyaluran kredit tercatat Rp112,9 triliun, meningkat Rp1,8 triliun dibandingkan kuartal sebelumnya. Segmen konsumen masih menjadi kontributor terbesar dengan Rp74,4 triliun atau sekitar 66% dari total kredit. Sementara itu, kredit korporasi meningkat Rp1 triliun atau 7% secara kuartalan dan kredit komersial meningkat Rp495 miliar atau 4,2%.
Pertumbuhan kredit tersebut tetap diimbangi dengan langkah pengelolaan risiko. Bank bjb membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp692 miliar untuk mengantisipasi potensi risiko portofolio kredit. Hingga September 2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat 2,87%, sedangkan loan at risk (LAR) berada di level 9,92%. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi mencapai rasio Rp155,6 triliun dengan loan to deposit (LDR) 86,8% dan CASA 44,9%.
Memasuki kuartal IV-2026, bank bjb akan melanjutkan strategi pertumbuhan berkualitas dengan memperkuat dana murah, mengendalikan biaya dana, meningkatkan pendapatan berbasis komisi, serta menyalurkan kredit secara optik. Perseroan juga akan memperkuat pemulihan kredit bermasalah, meningkatkan kualitas analisa kredit, dan menjamin efisiensi operasional. Strategi tersebut menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan laba sekaligus ekspansi bisnis tetap berjalan dengan kualitas aset yang terjaga. (srh)