Trending

Pendapatan Garuda Naik 13%, Tapi Rugi Bersih Tembus US$195 Juta

AdminNM-Newsmaker.id

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14.12

Pendapatan Garuda Naik 13%, Tapi Rugi Bersih Tembus US$195 Juta

Source: Newsmaker.id

Newsmaker.id -  PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) masih menghadapi tekanan pada kinerja bottom line sepanjang Januari-September 2026. Pendapatan perseroan sebenarnya tumbuh 13,23% secara tahunan menjadi US$2,70 miliar atau sekitar Rp48,38 triliun berdasarkan kurs JISDOR Rp17.877 per dolar AS. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan beban usaha yang mencapai 15,70% menjadi US$2,64 miliar.

Segmen operasi penerbangan menjadi kontributor terbesar pendapatan Garuda dengan nilai US$2,48 miliar atau sekitar Rp44,64 triliun. Selain itu, perseroan memperoleh pendapatan dari jasa pemeliharaan pesawat sebesar US$413,42 juta dan pendapatan lainnya US$307,61 juta. Namun, peningkatan pendapatan tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan biaya operasional yang membuat ruang profitabilitas perseroan tetap terbatas.

Salah satu tekanan terbesar berasal dari beban operasional penerbangan yang mencapai US$1,42 miliar hingga September 2026, meningkat dari US$1,15 miliar pada periode sebelumnya. Kenaikan tersebut sejalan dengan lonjakan harga avtur yang menjadi salah satu komponen biaya penting bagi industri penerbangan. Kondisi ini membuat pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi keuntungan bersih.

Setelah memperhitungkan berbagai beban dan pajak, Garuda Indonesia masih membukukan rugi bersih US$195,48 juta atau sekitar Rp3,49 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan pada profitabilitas perseroan masih cukup besar meskipun kinerja pendapatan mengalami pertumbuhan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Garuda untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tingginya biaya operasional penerbangan.

Dari sisi neraca, total aset Garuda menyusut dari US$7,62 miliar pada akhir 2025 menjadi US$7,28 miliar per September 2026. Liabilitas juga turun menjadi US$7,40 miliar, tetapi posisi ekuitas negatif justru semakin melebar menjadi US$220,64 juta atau sekitar Rp3,94 triliun, dari US$39,27 juta sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pendapatan mulai tumbuh, Garuda masih menghadapi pekerjaan besar untuk memperbaiki profitabilitas, struktur keuangan, dan kekuatan neracanya. (srh) 

Bagikan: