Rupiah Tertekan, Dolar Menguat di Tengah Risiko Iran
AdminNM-Newsmaker.id
Kamis, 13 Agustus 2026 - 14.27

Source: Newsmaker.id
Rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis. USD/IDR naik untuk hari ketiga berturut-turut dan bergerak di sekitar 17.920 pada awal sesi Eropa, seiring dolar kembali mendapat permintaan safe haven akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen global memburuk setelah belum terlihat kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan permanen terkait konflik di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan Washington memiliki “kendali penuh” atas jalur strategis Selat Hormuz, sementara tekanan ekonomi terhadap Iran juga berpotensi diperluas melalui sanksi dan pembatasan ekspor minyak.
Ketidakpastian geopolitik tersebut membantu dolar memulihkan pelemahannya. Selama ketegangan AS-Iran masih tinggi, investor cenderung mencari perlindungan pada aset safe haven sehingga mata uang emerging market, termasuk rupiah, berpotensi menghadapi tekanan.
Dari dalam negeri, fundamental fiskal Indonesia masih memberikan penahan. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran 2026 tetap di bawah 3% terhadap PDB, sementara penerimaan pajak Januari-Juli dilaporkan meningkat lebih dari 23% secara tahunan. Pasar selanjutnya menantikan rancangan APBN 2027 yang diperkirakan lebih berorientasi pada penguatan konsumsi.
Investor juga mencermati transisi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Presiden Prabowo mengajukan sejumlah kandidat untuk posisi strategis di bank sentral. Kepastian mengenai arah kepemimpinan BI akan menjadi perhatian karena berkaitan dengan stabilitas rupiah dan kebijakan moneter ke depan.
Analisis Newsmaker: Tekanan rupiah saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar dan ketegangan AS-Iran. Fundamental fiskal domestik membantu membatasi tekanan, tetapi selama DXY tetap kuat dan risiko Hormuz meningkat, USD/IDR masih berpeluang bertahan di area tinggi. Pergerakan selanjutnya akan sensitif terhadap arah dolar, harga minyak, serta kebijakan Bank Indonesia.