Rupiah Melemah, Ancaman Kenaikan Bunga The Fed Membayangi
AdminNM-Newsmaker.id
Senin, 7 September 2026 - 11.57

Source: Newsmaker.id
Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Senin (7/9), dengan USD/IDR bergerak di sekitar Rp17.662 per dolar AS, naik sekitar 0,18% dari sesi sebelumnya. Pelemahan terjadi setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat kembali meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Meski demikian, rupiah masih mampu bertahan di bawah area Rp17.700 untuk sesi ketiga berturut-turut.
Tekanan eksternal kembali meningkat setelah Non-Farm Payrolls AS Agustus menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan, jauh lebih kuat dari perkiraan pasar, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Data tersebut mendorong peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September ke kisaran 57%–58%. Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun, tekanan terhadap rupiah sejauh ini masih dibatasi oleh kondisi fundamental domestik yang relatif mendukung. Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada Agustus, level tertinggi dalam lima bulan, sementara rencana pemerintah menurunkan defisit fiskal 2027 menjadi 2,4% dari PDB turut memperkuat persepsi mengenai kehati-hatian fiskal. Bank Indonesia juga menegaskan bahwa inflasi domestik masih terkendali dan terus memprioritaskan stabilitas ekonomi serta nilai tukar.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Brent masih diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel, sehingga kenaikan biaya energi dapat memberikan tekanan tambahan bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia melalui kebutuhan dolar untuk membayar impor serta potensi peningkatan tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Dampak Pasar
Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi tetap bergerak hati-hati dengan area Rp17.700 per dolar AS menjadi level penting untuk diperhatikan. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data PPI dan CPI AS pekan ini, yang dapat menentukan apakah The Fed benar-benar memiliki alasan cukup kuat untuk menaikkan suku bunga. Inflasi AS yang lebih panas berpotensi mendorong dolar dan yield Treasury naik serta memberi tekanan lanjutan terhadap rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih lunak dapat menurunkan ekspektasi kenaikan bunga dan membuka peluang penguatan kembali bagi mata uang Indonesia.(CP)