Rupiah Ditutup Tertekan, Minyak di Atas US$100 dan Dolar Jadi Biang Kerok!
AdminNM-Newsmaker.id
Senin, 5 Oktober 2026 - 16.56

Source: Newsmaker.id
Newsmaker.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (5/10/2026), rupiah spot melemah Rp35 atau 0,20% ke level Rp17.917 per dolar AS. Pelemahan juga tercermin pada kurs JISDOR yang turun Rp19 atau 0,11% ke level Rp17.917 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari penguatan dolar AS dan harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$100 per barel.
Penguatan dolar menjadi salah satu faktor utama yang membatasi ruang apresiasi rupiah. Indeks dolar tercatat menguat hingga 102,09, sementara kenaikan yield US Treasury jangka panjang turut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor untuk mempertahankan eksposur pada aset AS di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Dari kawasan Asia, tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang regional. Baht Thailand turun 0,33%, won Korea Selatan melemah 0,21%, peso Filipina terkoreksi 0,14%, dan dolar Singapura turun 0,12%. Ringgit Malaysia juga melemah 0,06%. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang Asia masih cukup luas, terutama ketika dolar AS kembali menguat.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia berada dalam tekanan. Dolar Taiwan justru menguat 0,27%, disusul rupee India yang naik 0,02%. Yen Jepang dan dolar Hong Kong juga mencatat penguatan tipis masing-masing 0,006% dan 0,005% terhadap dolar AS. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa sentimen terhadap masing-masing mata uang tetap dipengaruhi oleh kondisi domestik dan ekspektasi kebijakan moneter.
Analisis Newsmaker: Pergerakan rupiah pada awal pekan menunjukkan kombinasi tekanan eksternal yang masih kuat. Harga minyak di atas US$100 berpotensi memperbesar beban impor energi Indonesia, sementara dolar AS yang menguat dan yield Treasury yang tinggi dapat membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Dalam jangka pendek, rupiah masih berpotensi bergerak volatil dengan area Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS menjadi zona psikologis penting. Jika tekanan dolar dan minyak berlanjut, risiko rupiah kembali mendekati Rp18.000 tetap perlu diwaspadai.