Trending

S&P Pertahankan Peringkat Indonesia, Kepercayaan Investor Terjaga

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 16 Juli 2026 - 14.26

S&P Pertahankan Peringkat Indonesia, Kepercayaan Investor Terjaga

Source: Newsmaker.id

Newsmaker.id - S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB/A-2 dengan prospek stabil. Keputusan tersebut mencerminkan penilaian bahwa Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, tingkat utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif terkendali, serta kemampuan menyesuaikan kebijakan anggaran ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Lembaga pemeringkat itu menilai tekanan fiskal yang terjadi belakangan ini kemungkinan bersifat sementara. Penerimaan negara diperkirakan dapat membaik seiring kenaikan harga komoditas, peningkatan pendapatan dari sektor sumber daya alam, dan pemulihan nilai ekspor. S&P juga memperkirakan pemerintah tetap menjadikan batas defisit anggaran sebesar 3% terhadap produk domestik bruto sebagai jangkar kebijakan fiskal.

Pada semester pertama 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB. Namun, pemerintah memperkirakan defisit hingga akhir tahun dapat melebar menjadi sekitar Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar 2,68%. Pelebaran tersebut terutama dipengaruhi peningkatan belanja dan tekanan subsidi energi akibat tingginya harga minyak dunia.

Meski peringkat Indonesia tetap berada pada kategori layak investasi, pemerintah masih perlu menjaga disiplin fiskal, meningkatkan penerimaan, dan mengendalikan biaya utang. S&P memperingatkan bahwa peringkat dapat tertekan apabila utang, beban bunga, atau kebutuhan pembiayaan eksternal memburuk. Sebaliknya, penguatan penerimaan, penurunan defisit, dan perbaikan posisi eksternal dapat membuka peluang kenaikan peringkat.

Dampak terhadap Ekonomi dan Market

Rupiah: Keputusan S&P berpotensi membantu memperbaiki sentimen terhadap rupiah karena menegaskan status investasi Indonesia. Namun, penguatan dapat terbatas selama rupiah masih dibayangi tekanan fiskal dan ketidakpastian global.

IHSG: Cenderung positif, terutama bagi saham perbankan, infrastruktur, dan perusahaan berkapitalisasi besar karena risiko penurunan rating dalam waktu dekat mereda.

Obligasi pemerintah: Status investment grade yang bertahan dapat menjaga minat investor terhadap Surat Berharga Negara. Namun, proyeksi defisit yang lebih besar berpotensi meningkatkan kebutuhan penerbitan utang dan menahan penurunan imbal hasil.

Ekonomi nasional: Sentimen ini positif bagi stabilitas makroekonomi, tetapi pemerintah tetap perlu menjaga defisit di bawah 3%, memperkuat penerimaan negara, dan memastikan belanja menghasilkan pertumbuhan ekonomi.(CP)

Bagikan: