Trending

HSG Dibuka Anjlok 2%, Ratusan Saham Berguguran

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09.53

HSG Dibuka Anjlok 2%, Ratusan Saham Berguguran

Source: Newsmaker.id

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026), dengan pelemahan sebesar 2,06% atau 109,64 poin ke level 5.218,71. Tekanan jual mendominasi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan 476 saham melemah, sementara hanya 59 saham menguat dan 129 saham bergerak stagnan. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.250,93 sebelum kembali tertekan hingga mencapai level terendah 5.216,09 pada awal perdagangan.

Pelemahan pasar saham domestik terjadi meskipun Wall Street mencatatkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, didukung optimisme terhadap laporan keuangan perusahaan Amerika Serikat. Namun, sentimen positif global belum mampu meredakan tekanan jual di pasar Indonesia. Kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing, ketidakpastian pasar keuangan, serta risiko perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI masih menjadi faktor yang dapat membatasi pemulihan indeks.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober 2026. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% serta menyesuaikan kebijakan likuiditas perbankan untuk menjaga stabilitas moneter. Langkah tersebut mencerminkan upaya Bank Indonesia mempertahankan daya tarik aset rupiah sekaligus mendukung likuiditas di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Sementara itu, kondisi geopolitik global turut menjadi perhatian pelaku pasar setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia. Harga minyak Brent yang berada di sekitar US$108 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi dan beban impor energi Indonesia. Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih rentan terhadap volatilitas, terutama apabila tekanan jual investor berlanjut, rupiah kembali melemah, dan ketidakpastian global semakin meningkat.

USD berpotensi menguat terhadap rupiah

Pelemahan IHSG dapat menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset Indonesia. Apabila tekanan jual disertai arus keluar dana asing, permintaan dolar AS berpotensi meningkat karena investor membutuhkan valuta asing untuk memindahkan modalnya.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi Indonesia. Kombinasi tekanan pasar saham, kenaikan harga energi, dan tingginya imbal hasil obligasi AS berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Namun, kebijakan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% serta langkah menjaga stabilitas nilai tukar dapat membantu membatasi pelemahan rupiah.(CP)

Bagikan: