Trending

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Kembali Melemah

AdminNM-Newsmaker.id

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09.57

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Kembali Melemah

Source: Newsmaker.id

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026), seiring meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik. Rupiah dibuka melemah 0,07% ke level Rp18.035 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.022 per dolar AS. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa mata uang Garuda masih menghadapi tekanan di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan depan.

Tekanan terhadap rupiah semakin meningkat akibat kekhawatiran inflasi global yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Munculnya laporan mengenai kemungkinan serangan militer baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada November mendatang turut meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor meningkatkan kepemilikan dolar AS sebagai aset aman sekaligus mengurangi eksposur terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober 2026. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas moneter dan menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya meredakan tekanan terhadap rupiah karena pelaku pasar masih mempertimbangkan risiko arus keluar modal asing, pelemahan pasar saham, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih berfluktuasi dengan kecenderungan menghadapi tekanan apabila dolar AS terus menguat dan harga minyak bertahan pada level tinggi. Investor akan mencermati pertemuan Federal Reserve pada 27–28 Oktober 2026 untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga hingga akhir tahun. Apabila bank sentral AS memberikan sinyal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, rupiah berpotensi kembali melemah. Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik dan meningkatnya aliran modal asing dapat membantu mata uang Garuda memperoleh ruang penguatan.(CP)

Bagikan: