Trending

Likuiditas RI Cetak Rekor, Pertumbuhan Ekonomi Siap Melaju?

AdminNM-Newsmaker.id

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11.03

Likuiditas RI Cetak Rekor, Pertumbuhan Ekonomi Siap Melaju?

Source: Newsmaker.id

Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia kembali meningkat pada September 2026 dan mencetak rekor sebesar Rp10.587,9 triliun. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan M2 mencapai 8,3% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan Agustus yang sebesar 8,2%. Peningkatan ini menunjukkan likuiditas dalam perekonomian masih bertumbuh, meskipun aktivitas penyaluran kredit mulai menunjukkan perlambatan.

Pertumbuhan jumlah uang beredar terutama didorong oleh kenaikan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 9%, yang mencakup uang tunai dan simpanan yang dapat segera digunakan untuk transaksi. Sementara itu, pertumbuhan uang kuasi, seperti simpanan berjangka dan tabungan tertentu, meningkat menjadi 7,3%. Kondisi tersebut mencerminkan bertambahnya dana yang tersedia dalam sistem keuangan, baik untuk kebutuhan transaksi maupun simpanan masyarakat.

Dari sisi faktor yang memengaruhi jumlah uang beredar, tagihan bersih kepada pemerintah pusat melonjak 24,4% setelah sebelumnya mengalami kontraksi 7% pada Agustus. Aktiva luar negeri bersih juga kembali tumbuh sebesar 1%, berbalik dari penurunan 6,6% pada bulan sebelumnya. Namun, pertumbuhan kredit melambat menjadi 12,7% dari 13,3% pada Agustus. Perkembangan ini menunjukkan bahwa peningkatan likuiditas belum sepenuhnya diikuti percepatan pembiayaan kepada sektor usaha dan masyarakat.

Ke depan, pertumbuhan uang beredar berpotensi memberikan dukungan terhadap konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi apabila likuiditas tersalurkan secara produktif. Namun, Bank Indonesia tetap perlu memperhatikan keseimbangan antara ketersediaan uang, pertumbuhan kredit, serta stabilitas harga. Jika peningkatan likuiditas mendorong permintaan lebih cepat daripada kemampuan produksi, tekanan inflasi dapat meningkat. Dengan jumlah uang beredar yang mencapai rekor baru, perhatian kini tertuju pada apakah tambahan likuiditas tersebut mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia atau justru menambah tantangan dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Bagikan: